GfWoBUY9Tpz9TpziGfM5BSWoTY==

Ini alasan Sultan HB X meminta rumah kosong di sekitar Malioboro dijadikan tempat parkir

Sri Sultan HB X - Antara/Andreas Fitri Atmoko

Lahan parkir yang tersedia di Malioboro Jogja sangat terbatas dan sulit bagi Pemerintah Daerah DIY untuk mencari lahan baru di sekitar kawasan tersebut. Persoalan utama adalah terbatasnya lahan kosong yang tersedia dan harganya yang tinggi. 

Sri Sultan Hamengku Buwono X, selaku Gubernur DIY, mengatakan bahwa Pemerintah Daerah telah berupaya untuk menambah lahan parkir di Malioboro. Salah satu upayanya adalah dengan menyewa bekas lahan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta yang kini dijadikan Parkir Ketandan. Diharapkan tempat parkir ini dapat menampung wisatawan yang berkunjung ke Malioboro.

Selain itu, Pemerintah Daerah DIY juga telah berusaha untuk menyediakan tempat parkir di Terminal Giwangan, Bandara Adisutjipto, dan Terminal Jombor agar bisa digunakan sebagai tempat parkir wisatawan. Untuk memudahkan akses wisatawan dari tempat parkir tersebut ke wilayah Kota Jogja, Pemerintah Daerah DIY juga menyediakan transportasi umum.

Meskipun telah melakukan berbagai upaya untuk menambah lahan parkir di Malioboro, Sultan menyadari bahwa hal tersebut masih kurang mengingat banyaknya wisatawan yang berkunjung ke sana. Akibatnya, wisatawan sering menggunakan jalan-jalan di samping kiri Jalan Malioboro, seperti Jalan Pajeksan dan Jalan Dagen untuk parkir.

Sultan juga menilai bahwa tarif parkir yang dikenakan pada tempat parkir yang dikelola swasta tidak sesuai dengan regulasi dan bahkan beberapa kali lipat dari tarif yang telah ditetapkan. Hal ini mungkin terjadi karena para pengelola tempat parkir ingin mencari keuntungan yang lebih besar.

Oleh karena itu, Sultan berharap agar masyarakat sekitar Malioboro yang memiliki lahan kosong dapat memanfaatkannya sebagai tempat parkir tambahan bagi wisatawan. Ia berharap agar rumah-rumah kosong tersebut dapat menjalin kerja sama dengan Pemerintah Daerah DIY atau teman-temannya untuk membuat tempat parkir yang baru. 

“Itu memungkinkan seperti itu, ruang untuk mencari duit yang lebih banyak bisa, ya nanti kami pikirkan,” katanya di Kompleks Kepatihan, Rabu (3/5/2023). ''

Sultan mengatakan bahwa kolaborasi antara berbagai pihak dalam mengatasi masalah parkir di Malioboro sangatlah penting. Ia mengakui bahwa Pemda DIY mengalami kesulitan dalam mengamankan lahan yang cukup untuk dijadikan tempat parkir di Malioboro Jogja. Menurut Sultan, daerah sekitar Malioboro sudah sangat padat dan sulit untuk menemukan lahan kosong dengan ukuran sekitar 1 atau 2 hektar yang dapat dijadikan tempat parkir.

“Kami enggak mungkin akan membebaskan semua kawasan untuk tempat parkir. Jadi harus ada inisiatif dari publik, bisa enggak kerja sama sama dengan Pemda DIY? Mosok semuanya harus kami yang membebaskan, kalau sekitar Malioboro kan harganya sudah sangat mahal,” Ungkapnya




Comments0


Dapatkan update informasi pilihan dan terhangat setiap hari dari Rafadhan Blog. Temukan kami di Telegram Channel, caranya klik DISINI